BABEBOGOR.COM – PT ANTAM (Persero) Tbk melalui Unit Bisnis Pertambangan Emas (UBPE) Pongkor kembali meraih penghargaan dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dalam ajang Apresiasi Minerba 2026.
Penghargaan tersebut diraih melalui program Garitan Kalongliud (Gerakan Ramah Lingkungan untuk Mendukung Ketahanan Pangan Kalongliud) pada kategori Penguatan Kelembagaan Kelompok Tani untuk Mendukung Ketahanan Pangan.
Penghargaan ini menjadi bentuk apresiasi atas upaya ANTAM UBPE Pongkor dalam mengembangkan pemberdayaan masyarakat berbasis pertanian berkelanjutan di Desa Kalongliud, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Melalui Garitan Kalongliud, ANTAM bersama masyarakat telah mendorong pemanfaatan 63 hektare lahan tidur menjadi lahan pertanian produktif, disertai penguatan kelembagaan kelompok tani, peningkatan kapasitas petani, serta pengembangan kegiatan ekonomi berbasis potensi lokal.
Program ini mengintegrasikan kegiatan pertanian dan peternakan melalui pemanfaatan pupuk organik, pengolahan limbah pertanian dan peternakan, serta penguatan kapasitas kelompok tani. Pendekatan tersebut diarahkan untuk meningkatkan produktivitas lahan, efisiensi pemanfaatan sumber daya, dan kemandirian ekonomi masyarakat.
West Java Region CSR & ER Subdivision Head PT ANTAM (Persero) Tbk., Agustinus Toko Susetio, S.P., M.M., menjelaskan bahwa Garitan Kalongliud dikembangkan untuk menjawab dua tantangan sekaligus, yakni peningkatan ketahanan pangan dan perlindungan lingkungan.
“Selama ini kita menghadapi kondisi yang cukup paradoks. Di satu sisi, kebutuhan pangan terus meningkat dan mendorong pembukaan lahan pertanian baru, termasuk yang berpotensi menekan kawasan hutan.”
“Namun di sisi lain, masih banyak lahan pertanian yang justru dibiarkan tidak produktif. Melalui Garitan Kalongliud, kami ingin menunjukkan bahwa peningkatan produksi pangan dapat dilakukan dengan mengoptimalkan lahan yang sudah tersedia, tanpa harus terus memperluas lahan pertanian ke kawasan hutan,” ujar Agustinus.
Menurutnya, keberhasilan mengoptimalkan 63 hektare lahan tidur bukan semata-mata persoalan luas lahan, tetapi juga hasil dari proses membangun kesadaran, kemampuan, dan kelembagaan masyarakat dalam mengelola sumber daya secara berkelanjutan.
“Kunci keberhasilan Garitan bukan hanya pada teknologi pertaniannya, tetapi pada kekuatan kelembagaan petani. Kami ingin kelompok tani mampu merencanakan usaha, mengelola sumber daya, dan mengembangkan kegiatan ekonomi secara mandiri. Karena pada akhirnya, keberlanjutan program harus berada di tangan masyarakat, bukan bergantung selamanya pada pendampingan perusahaan,” jelasnya.
Melanjutkan Jejak Pemberdayaan Masyarakat Pongkor
Garitan Kalongliud merupakan bagian dari perjalanan panjang program pemberdayaan masyarakat ANTAM UBPE Pongkor yang dikembangkan secara bertahap berdasarkan karakteristik dan potensi setiap wilayah.
Sebelumnya, ANTAM telah mengembangkan Cikal Tangkal di Desa Bantar Karet, yang berfokus pada penguatan masyarakat melalui pengelolaan potensi lokal dan kepedulian terhadap lingkungan. Selanjutnya, Pepeling Cisangku di Desa Malasari mengembangkan pemberdayaan masyarakat berbasis konservasi dan rehabilitasi kawasan hutan, sedangkan Sundung Cisarua di Desa Cisarua memperkuat pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui pemanfaatan sumber daya lokal secara berkelanjutan.
Berbagai program tersebut memiliki pendekatan yang berbeda, tetapi saling terhubung dalam satu tujuan, yakni membangun keseimbangan antara peningkatan kesejahteraan masyarakat, penguatan ekonomi lokal, dan kelestarian lingkungan.
Pengembangan Pertanian Sirkular dan Inovasi Berkelanjutan
Ke depan, Garitan Kalongliud diarahkan menuju pengembangan Circular Agriculture Initiative, yaitu sistem pertanian terintegrasi yang menghubungkan kegiatan budidaya tanaman, peternakan, pengolahan bahan organik, dan pengembangan usaha masyarakat dalam satu siklus pemanfaatan sumber daya.
ANTAM UBPE Pongkor juga merencanakan pengembangan teknologi pertanian cerdas dan rendah emisi, termasuk pengelolaan air sawah melalui pendekatan Alternate Wetting and Drying (AWD), pemanfaatan energi surya, serta pengembangan agroeduwisata sebagai peluang diversifikasi ekonomi masyarakat.
Seluruh inisiatif tersebut merupakan bagian dari strategi jangka panjang ANTAM UBPE Pongkor untuk memperkuat ketahanan ekonomi dan kemandirian masyarakat secara berkelanjutan.
Penghargaan Apresiasi Minerba 2026 diserahkan dalam rangkaian Mineral & Batubara Convention-Expo (Minerba Convex) 2026, yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM, Selasa (3/11), di JIEXPO Convention Centre and Theatre, Kemayoran, Jakarta.
Capaian ini semakin memperkuat komitmen ANTAM UBPE Pongkor dalam menjalankan pertambangan yang bertanggung jawab melalui program pemberdayaan yang tidak hanya memberikan manfaat ekonomi saat ini, tetapi juga membangun fondasi kemandirian masyarakat dan kelestarian lingkungan untuk generasi mendatang.****






